Sebuah chip bisa menggantikan alat kontrasepsi konvensional. Chip ajaib ini telah mendapat dukungan dari pendiri Microsoft, Bill Gates. Rencananya para ilmuwan akan mengajukan pra-uji klinis tahun depan di Amerika Serikat. Setelah itu baru akan dikomersilkan di tahun 2018.
"Chip ini mempunyai kemampuan untuk dinyalakan dan dimatikan dari jarak
jauh. Diharapkan chip ini dapat memberikan kenyamanan tertentu bagi mereka yang
berencana berkeluarga," ujar Dr. Robert Farra dari Massachusetts Institute
of Technology (MIT), Amerika Serikat, seperti dilansir BBC, Selasa 8 Juli 2014.
Bahkan, sebelum diproduksi secara massal, pemerintah dan organisasi di seluruh
dunia sepakat untuk mencoba program keluarga berencana itu terlebih dahulu.
Diprediksi tahun 2020 nanti, 120 juta lebih perempuan telah memanfaatkan chip
tersebut.
Sebuah penampung hormon disematkan ke dalam microchip berukuran lebar 1,5cm.
Lebar keseluruhan dari chip ini adalah 20mm x 20mm x 7mm. Perangkat ini akan
ditanam ke dalam kulit wanita, lalu sekitar 30 mikrogram hormon bernama
levonorgestrel akan menyebar di dalam kulit.
Levonorgestrel merupakan sejenis hormon sintetik (progestin) yang biasa
digunakan sebagai bahan pil kontrasepsi. Dari reaksi tersebut,
Chip ini bisa bertahan cukup lama sehingga bisa diganti sekitar 16 tahun
sekali. Namun fungsinya bisa dinonaktifkan setiap saat sesuai kebutuhan, hanya
dengan remote control.
Teknologi implan kontrasepsi sejatinya bukanlah hal baru. Manfaat utamanya
yakni bisa membantu orang-orang yang lupa minum obat ketika akan berhubungan
badan. Penggunaan obat sebagai alat kontrasepsi kurang mendapat minat karena
seringnya 'kebobolan'. Sebelumnya telah ada teknologi implan alat kontrasepsi
namun dibutuhkan bantuan dokter untuk menonaktifkan fungsinya.
Para
peneliti mengakui chip ini masih perlu untuk dikembangkan lagi untuk menjamin
keamanan saat pemakaian. Bisa jadi kendali aktivasi akan disalahgunakan oleh
orang yang tidak bertanggung jawab tanpa sepengetahuan wanita pemilik
kontrasepsi.
"Kita harus memiliki enkripsi yang aman sehingga dapat mencegah seseorang
untuk mengotak-atik alat tersebut selain wanita itu sendiri," imbuh Dr.
Farra.
Meskipun chip ini mampu menggantikan obat lain yang serupa namun para ahli ragu
jika teknologi tersebut tak akan membahayakan penggunanya bila tidak sesuai.
"Teknologi implan seperti ini bakal menghadapi berbagai tantangan dan
resiko. Salah satunya yang perlu diingat yaitu, untuk mengnonaktifkan perlu
bimbingan ke klinik dan prosedur rawat jalan," ucap Kepala Konsultan Bedah
Bisnis dan Intervensi Cambridge, Simon Karger.
Karger tak membantah bahwa teknologi implan tersebut berpotensi cukup besar
untuk digunakan banyak orang di masa depan.
Sumber
: viva

Tidak ada komentar:
Posting Komentar